Bu Mamik Tak Tersentuh, Satpol PP Diam, Panti Pijat Digrebek Polrestabes

Super Administrator 12118 Kali Dilihat 1 Komentar

Bu Mamik Tak Tersentuh, Satpol PP Diam, Panti Pijat Digrebek Polrestabes

Pengelola panti pijat kesehatan “Ria” di Jalan Cipunegara Surabaya ditangkap dan diamankan PPA Polrestabes Surabaya.

SURABAYA - Maraknya praktik prostitusi berkedok tempat hiburan seperti tempat kesehatan di Surabaya kian menjamur dan terus diungkap pihak Polrestabes Surabaya. Ini setelah kesan mandul pihak Sat Pol PP selama ini yang lambat bertindak. Hal ini hingga Polrestabes bertindak dan membongkar praktik prostitusi tersebut. Mengingat, praktik prostitusi terselubung domain polisi pamong praja.

Karena Satpol PP membiarkan praktik pelacuran terselubung, Polrestabes mengambil tindakan. Tindakan ini diambil karena dikhawatir panti pijat semacam ini berpeluang menjadi lokalisasi pelacuran pengganti Dolly. Kali ini, panti pijat kesehatan “Ria” di Jalan Cipunegara Surabaya, menjadi sasaran penggerebekan. Berdasarkan informasi masyarakat, tempat tersebut kerap dipakai untuk kegiatan prostitusi berkedok layanan pijat plus atau berhubungan badan layaknya suami istri.

"Saat kami lakukan pengintaian, kami mendapati satu orang pria masuk kedalam rumah tersebut, lalu kami lakukan penggerebekan dan benar jika satu terapis perempuan sedang dalam keadaan telanjang melayani pria tersebut," papar Kompol Bayu Indra Wiguno, Wakasat Reskrim Polrestabes Surabaya, Kamis beberapa waktu lalu.

Kompol Bayu Indra Wiguno menjelaskan, selama 2016 hingga awal 2017 ini pihaknya seringkali menerima laporan masyarakat tentang tempat pijat dan perawatan terselubung hingga menyediakan jasa plus-plus, yang tak ditindak oleh Satpol PP.

“Banyak yang laporan ke kami. Kami untuk menindak tempat usahanya bukan kewenangan kami khan. Kami hanya menindak pelakunya, karena ini pidana," tegas Kompol Bayu.

4 Terapis Layani Pijat Plus-plus
Ketika dilakukan penyisiran didalam rumah pitrad tersebut, ditemukan empat terapis perempuan yang setiap harinya melayani tamu atau pria hidung belang, usia mereka pun bervariasi, antara 28 - 40 tahunan.

Dari hasil penyidikan, petugas berhasil menetapkan satu orang tersangka yakni Sutikno, 59 tahun, warga Ngagel Rejo Surabaya, yang bertugas sebagai pengelola tempat pijat terselebung tersebut. Dari pengakuannya tersangka mematok tarif Rp 120 ribu untuk pijat dengan sistem bagi hasil 50 persen, sementara untuk layanan plus-plus, tergantung negoisasi antara terapis dengan tamunya.

"Modus tersangka mempekerjakan tiga orang terapis perempuan. Para terapisnya ternyata tidak hanya memberi layanan biasa, tapi juga bisa memberi jasa plus-plus atau bisa diajak hubungan badan. Tarif pijat biasanya Rp 120 ribu, kalau plus-plus tambah Rp 200 ribu," terang Bayu.

Pengelola Mengaku tak Tahu
Akan tetapi justru tersangka Sutikno berkilah kalau dirinya tidak tahu, jika pekerjanya juga memberikan layanan plus-plus kepada para tamu. Sejak awal, dirinya melarang para pekerja memberi jasa plus-plus kepada tamu yang mendatangi tempat pijat miliknya. "Tempat pijat saya itu kadang ramai, tapi tidak setiap hari. Saya tidak tahu jika pekerja bisa diajak begituan (hubungan badan)," bantah Sutikno.

Dia mengaku, penghasilan dari pengelolaan tempat pijat miliknya dipakai untuk operasional dan kebutuhan sehari-hari. Mulai membayar listrik, air PDAM dan lainnya.

Dengan berhasil terbongkarnya kasus prostitusi berkedok pitrad ini, semakin menambah daftar panjang rangkaian bisnis esek-esek terselubung di kota Surabaya. Seakan belum ada efek jera bagi pelaku usaha maupun pengelola bisnis "buang lendir" secara sembunyi-sembunyi di kota ini.

Praktik Prostitusi Masih Marak
Praktik prostitusi di tempat hiburan dan atau tempat kesehatan terus tumbuh. Bahkan yang menjadi langganan, seperti di Hotel Sirkuit, kawasan Kenjeran, Hotel Istana Permata hingga beberapa tempat karaoke dan tempat pijat, yang sudah pernah dibongkar Polrestabes Surabaya dan Polda Jatim pun, di awal tahun 2017, masih marak.

Seperti Karaoke Doremi di Kompleks RMI Jalan Ngagel Selatan, yang menyediakan cewek yang bisa dibooking dengan tarif Rp 1,5 juta. Kemudian tempat hiburan Diamond Red Blue di Jalan Embong Sawo. Tristar di kawasan Pasar Besar Surabaya. Serta beberapa tempat pijat di kawasan Darmo Park I, dan beberapa rumah kos dan homestay. Terakhir, homestay “Roterdam” di Jalan Nginden Intan Barat, yang ditemukan adanya prostitusi.

Dari sejumlah perkara yang diungkap polisi di sejumlah tempat hiburan di Surabaya, praktik prostitusi yang berjalan modusnya hampir sama. Pengelola tempat hiburan dan atau tempat pijat, menyediakan wanita pemandu atau terapis. Untuk wanita pemandu lagu atau purel, biasanya bisa disiapkan untuk menemani tamu. Namun, purel-purel itu tidak semuanya hanya menemani dugem, mereka juga bisa dikencani dengan tarif tertentu.

Polisi Sindir Satpol PP
Bukan rahasia umum, tempat-tempat yang menyediakan layanan jasa plus-plus baik di tempat karaoke, atau di tempat pijat, pihak pengelola terlibat dalam pelayanan dan mengetahui praktik prostitusinya.

Ditempat tersebut proses tawar menawar bisa dilakukan langsung ke sang purel atau penerapis. Atau melalui Guest Relation Office (GRO) atau yang biasa disebut mami atau papi. “Sudah sering kasus-kasus seperti itu terungkap. Pelaku kami tindak, namun sayang, tidak ada tindakan tempat usahanya dari pemerintah kota Surabaya. Jadi sayang juga kalau kami sudah membongkar, tidak ada tindakan nyata. Padahal secara ijin, mereka sudah melanggar peraturan yang ada di kota Surabaya,” sebut salah satu penyidik PPA Polrestabes Surabaya, usai rilis pengungkapan praktik prostitusi di pitrad RIA.

Dari beberapa tempat prostitusi yang telah digrebek pihak kepolisian Polrestabes Surabaya, nampaknya tak membuat takut para pengelola maupun pengusaha lendir tersebut. Terbukti hingga sekarang masih banyak tempat prostitusi terselubung berkedok pitrat tumbuh marak di kota Surabaya.

Seperti pitrat Bu Mamik di jalan Barata Jaya 59 Blok B-16 Surabaya. Dari pemberitaan beberapa media online lokal di Surabaya, pitrat Bu Mamik ini ternyata menyediakan jasa esek – esek yang melayani para pria hidung belang untuk setiap harinya. Dengan berkedok pitrat tradisional bisnis ini nampaknya berjalan mulus tanpa tersentuh dari aparat Sat Pol PP maupun pihak kepolisian, meski telah berlangsung sejak lama beroperasi.

Disebutkan dari pemberitaan media lokal online itu, pitrat Bu Mamik juga telah melanggar Peraturan Kotamadya Daerah Tingkat II surabaya nomor 7 tahun 1992 tentang Izin Mendirikan Bangunan yang sudah jelas menyalahi fungsinya karena melanggar perda surabaya nomor 1 tahun 2014 tentang perdagangan manusia (human trafficking).

Tak hanya itu, bisnis pitrat ini juga melanggar pasal 296 KUHP yang dikenal sebagai pasal tentang bordeelhouderij; orang Indonesia lebih mengenal dengan sebutan germo atau mucikari. Sederhananya, mucikari adalah sebutan untuk orang yang memfasilitasi perbuatan cabul. ‘Profesi’ ini sudah lama ada dan mungkin sulit diberantas.

Praktik Prostitusi di Tempat Hiburan dan Tempat Pijat Surabaya, terus Dipantau Polrestabes, karena Dilaporkan Para Terapis juga Layani Plus-plus Tamunya.

Tak Tersentuh Aparat
Buktinya bisnis pitrad yang diduga beromset hingga jutaan rupiah dalam sehari ini belum ada tindakan tegas dari instansi terkait seperti Satpol PP, Dinas sosial kota surabaya maupun aparat kepolisian. Terbukti, hingga saat ini pengelola Pitrat Bu Mamik ini masih menjalankan bisnisnya itu dan yang jelas belum tersentuh oleh aparat?

Akankah pitrat Bu Mamik ini ditindak dan ditutup ? Karena jelas pihak pengelola tersebut telah membuka serta menyediakan tempat praktik prostistusi?

“Satpol PP dan aparat lain saja sering kesini mas, tapi ya itu seolah tak terjadi apa-apa didalam,” ujar penjual bakso saat dikonfirmasi media ini dilokasi.

[ano]

 

1 Komentar

  1. Behind a good article there must be a creative writer in it spirit :)
    https://goo.gl/8ETaYa
    https://goo.gl/DgBKbc
    https://goo.gl/Q5cpS6
    https://goo.gl/2c5ne2

Tinggalkan Komentar