Ada Bukti Transfer ke Kadis PMD dan Staf BPKAD

# Kasus Dugaan Korupsi Kambing Etawa Rp 9,2 Miliar

1473

BANGKALAN, SENTRAL ONE.COM – Kotak Pandora, rekening Bank Mega atas nama Hadi Wiyono, akhirnya terbuka. Meski belum secara keseluruhan, namun print out rekening Bank Mega itu bisa mengungkap siapa saja yang menerima aliran dana dari Robi, sejak Agustus 2017 hingga November 2017.

Karyawan Bank Mega KCP Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

Untuk diketahui, Robi adalah karyawan Bank Mega KCP Bangkalan, yang diduga terlibat dalam pemotongan uang proyek kambing etawa di Bangkalan.  Dia yang membuka rekening di Bank Mega atas nama Hadi Wiyono, pedagang kambing asal Senduro Lumajang, yang menjadi penyuplai kambing etawa dalam proyek tersebut.

Setelah membuka rekening, buku rekening berikut ATM serta kartu kredit Bank Mega atas nama Hadi Wiyono itu dikuasai oleh Robi. Karena itulah, kemudian ditemukan banyak tarikan tunai yang diduga dilakukan Robi dengan memalsukan tandatangan Hadi Wiyono. Diduga, dia mencairkan uang dalam rekening itu hingga ratusan juta rupiah tanpa kuasa dan KTP asli Hadi Wiyono. Hal itu bisa dilakukan karena, Robi adalah karyawan di Bank Mega.

Rabu 2 Januari 2019, setelah berunjuk rasa untuk kali ketiga aktivis dari Rumah Advokasi Rakyat (RAR), Bank Mega KCP Bangkalan akhirnya mau memberikan print out rekening atas nama Hadi Wiyono.

’’Meski print out rekening tidak terbuka keseluruhan, namun dari print out ini, kita bisa mengetahui, siapa saja yang menerima aliran dana dari orang yang membawa kabur uang pembayaran kambing etawa, yang bernama Robi,’’ kata Direktur RAR, Risang Bima Wijaya.

Dalam print out tersebut, terdapat banyak transaksi tarikan tunai melalui ATM Bank Mega dan ATM bersama. Ada transfer via ATM ke sejumlah nama, transaksi melalui kartu kredit, dan tarikan serta transfer tunai.

’’Dalam print out itu, terdapat penerima transfer ke rekening BCA atas nama Soni Arifianto, sebesar Rp 20 juta, yang terjadi pada 21 Agustus 2017,’’ ungkap Risang. Soni, lanjutnya, diketahui adalah staf di BPKAD Bangkalan.

Kemudian, sambung Risang, pada 10 November 2017, terdapat transfer sebesar Rp 5 juta ke rekening BCA atas nama Mulyanto Dachlan, SH, MH. Kemudian pada 17 November 2017, kembali muncul transfer Rp 20 juta ke rekening BCA atas nama Mulyanto Dachlan, SH, MH. ’’Mulyanto Dachlan ini, bisa kami pastikan adalah Kepala Dinas PMD Bangkalan,’’ tegas Risang.

Selebihnya, banyak nama-nama yang tidak dikenal yang menerima transfer dari rekening tersebut. Ada juga transaksi hotel, belanja barang mewah, pembelian tiket transportasi melalui ATM dan kartu kredit.

’’Kemudian ada tarikan dan transfer tunai, mulai Rp 5 juta, Rp 50 juta, Rp 60 juta, dan Rp 190 juta yang masih belum jelas penerimanya, karena transfernya tunai. Untuk ini, kita akan mengajukan permohonan kepada Bank Mega untuk membuka slip penarikan dan transfernya,’’ ujar Risang.

Namun sebelumnya, sambung dia, pihaknya terlebih dahulu akan meminta klarifikasi dan konfirmasi terlebih dahulu dari saudara Hadi Wiyono, terkait jejak transaksi tersebut. Mengingat, buku rekening dan ATM atas namanya, sempat dibawa beberapa bulan oleh Robi. Kemudian, masih ada dua bulan jejak transaksi yang dinilai masih hilang.

’’Rekening ini dibuka 12 Juni 2017, tapi print out rekening yang diberikan pihak Bank Mega, mulai 3 Agustus 2017. Jadi, ada bulan Juni dan Juli 2017 yang masih belum di print out,’’ ujar Risang.

Jadi, selain meminta klraifikasi kepada Hadi Wiyono, pihaknya juga akan mengonfirmasi pihak Bank Mega Bangkalan. ’’Kami merasa perlu untuk mengklarifikasi pada Hadi dan Bank Mega terlebih dahulu, sebelum mengambil langkah lebih jauh,’’ pungkas Risang.

Seperti diketahui, pada 2017 lalu, Pemkab Bangkalan melalui BPKAD mengadakan program pengembangan Kambing Etawa untuk 273 desa di Bangkalan. Dananya, total Rp 9,2 miliar. Rinciannya, Rp 13.750.000 untuk 4 ekor kambing betina; Rp 10 juta untuk seekor kambing jantan; dan Rp 10 juta untuk pembangunan kandang.

Namun, pada perjalanannya, proyek tersebut gagal total, dan uang pembayaran kambing menjadi ruwet akibat campur tangan pihak ketiga. Salah satunya karyawan Bank Mega, bernama Robi yang membawa kabur uang pembayaran kambing dari 4 kecamatan, dan menguras rekening pembayaran kambing di Bank Mega.

Penyuplai kambing-kambing etawa dari Lumajang, tidak terbayar, karena uangnya banyak dipotong, kurang bayar. Kejari Bangkalan kemudian mengendus adanya dugaan tindak pidana korupsi dalam proyek ini. Bahkan, Kejari Bangkalan menerima uang titipan kekurangan bayar kambing, potongan, dan kelebihan uang kandang, yang totalnya mencapai Rp 432 juta.

Tapi, pihak Kejari bangkalan menyatakan bahwa uang tersebut adalah titipan sukarela dari desa-desa. ’’Itu uang kekurangan bayar kambing, kelebihan uang kandang, dan lain-lain. Pokoknya kita sudah menemukan fakta dan bukti hukum terjadinya korupsi, termasuk berapa kerugian negara dalam proyek ini (kambing etawa). Januari 2019, kita sudah bisa tetapkan tersangkanya,’’ tandas Kajari Bangkalan, Badrut Tamam.

Penulis : Risang Bima Wijaya
Editor  : Andi
Publish : Hery Setiawan

Sumber : Risang Bima Wijaya 
Direktur Rumah Advokasi Rakyat (RAR)