Antara Saya, Selfie Dengan Jokowi dan La Nyalla Academia

179

SURABAYA – Secara jujur saya adalah kelompok yang disebut swing voter (golput). Sepak terjang perpolitikan saya dimulai dari menjadi Relawan militansi Prabowo Subianto.

Boleh dibilang di dunia media sosial, saya ini ‘pembunuh’ cebong no wahid. Jarang ada yang beradu argumentasi dengan saya menang.

Dulu tahjn 2014 saya suka berkumpul di Jalan Fatmawati 200 dan bergabung dengan wartawan wartawati senior pendukung 08. Sebut saja nama Naniek S Deyang, Linda Djalil dll.

Saya menjadi tim sukses untuk Anies-Sandi di pilkada Jakarta tahun lalu.

Sampai perjalanan saya bertemu dan berkenalan dengan La Nyalla Mahmud Mattalitti karena saya diminta membantu pemenangan beliau pada pilkada Jawa Timur.

Namun apalacur, takdir berkata lain. Dengan liku Sandiwara, akhirnya rekomendasi LNM tidak turun dari partai yang paling bergengsi saat ini.

Hal ini membuka mata saya untuk bermain logika dan nurani.

Saya mulai merapat ke pak Nyalla sebagai teman diskusi politik.

Lumayan juga, karena pengetahuan beliau yang meski kadang terkesan liar tapi masuk akal dengan keadaan saat ini.

Meski pak Nyalla sudah memproklamirkan mendukung Jokowi dengan menjadi founder di Rumah Rakyat Jokowi, saya tetap netral karena entah hati saya masih gamang.

Saya bergabung dalam organisasi beliau yang diberi nama La Nyalla Academia.

Dan saya diminta untuk menjadi team cyber anti hoak.

Alhamdulillah karena pada dasarnya saya memang tidak suka membaca, mendengar berita hoax.

Tapi kalau untuk memvote Jokowi, tungguh dulu. Saya masih belum yakin.

Siang ini Allah memperlihatkan pada saya sebuah kenyataan.

Saya hadir sebagai pencari warta di La Nyalla Media Centre pada acara deklarasi dukungan untuk Jokowi di Tugu Pahlawan Surabaya.

Saya melihat dan merasa dari hati ke hati bahwa ini Jokowi yang apa adanya.

Berbicara, berpidato, bersalaman tanpa beban. Beliau asyik membawa kita pada manusia yang dimanusiakan tanpa sekat, tanpa perasaan takut.

Pada sesi foto-foto, bahkan saya masih enggan mengeluarkan kamera saya.

Saya malah asyik mentertawakan ibu-ibu sebelah saya yg teriak pak jokowi…pak jokowi panggung belakang panitia mau selfie juga.

Saya pikir ndeso ini orang sampai segitunya.

Namun, Pak Jokowi mundur juga untuk menyalami kami di panggung belakang tempat panitia dan pers.

Banyak yang mengeluarkan ponselnya untuk minta berfoto.

Mungkin karena kecapekan, beliau berkata “sudah-sudah”, anehnya pak Jokowi malah menoleh pada saya dan meminta ponsel saya untuk wefie.

Antara percaya dan tidak, saya malah terdorong yang lain ketika moment itu terjadi.

Kemudian beliau menyerahkan ponsel saya kembali sambil mengangguk dan tersenyum ala Jokowi.

Ya Allah, inikah orang yg saya benci. Mendekat begitu dekat.

Jika ada niat buruk bisa saja hal terjelek terjadi. Dan saya pun mulai menulis di secarik kertas welcome to the cebongs family ani.

Ah biarlah mereka akan mengatakan saya dungu.

Yang pasti nanti di akhirat pertanyaannya bukan seberapa pintar kamu, namun seberapa berat kadar imanmu.

Biarlah Rocky Gerung and the gank mengagungkan otak ketemu otak namun kalau tanpa hati buat apa.

To menjadi pintar ala dia mendekatkan diri pada atheisme. Membutakan nurani karena semua yang indah dianggap fiksi.

Diakhir tulisan ini, saya mulai berfikir untuk lebih welcome dan secara obyektif menilai Jokowi.

Aamiin

Penulis : Ani Sulastri
Editor : Hery Setia