Distorsi Nilai Peradaban Kaum Sarungan Pulau Madura

96
Kholili Ansori (kanan) aktivis La Nyalla Academia bersama Founder La Nyalla Academia, La Nyalla Mahmud Mattalitti.

SENTRAL ONE.COM – Kaum sarungan merupakan representasi dari kaum “santri” dan “kiai” yang selalu menjadi ikon bangsa dalam menebar kebaikan dan kedamaian.

Kaum sarungan adalah utusan langit yang selalu membawa keteduhan disaat kondisi bangsa panas.

Dalam menjemput pesta demokrasi seyogyanya kaum sarungan hadir dengan membawa pesan kedamaian.

Namun, akhir-akhir ini kaum sarungan menjadi bagian dari pelopor “ketidak sejukan” dan meningkatkan tensi suhu politik dengan menebar pesan-pesan yang menakutkan dan tidak elok didengar (kebencian).

Moralitas bangsa seakan-akan tertutupi oleh keegoisan dan fanatisme demokrasi politik, nilai ketuhanan seakan-akan punah dari prinsip berbangsa dan beragama, caci maki sudah menjadi menu sarapan setiap hari, mengolok-olok orang lain dengan kata “kafir”, “biadab” dan lain-lain seakan-akan menjadi langanan untuk dikonsumsi dan diperjual belikan kepada publik.

Ironis, jika ada seorang yang disebut “kaum sarungan” mempraktikan prilaku tersebut.

Dulu, apabila dengar “kaum sarungan” yang ada dalam mindset masyarat Madura adalah orang yang berilmu dan bijaksana.

Berjalannya waktu, nama tersebut, tidak lagi menjadi orang yang disengani prilakunya dan ditaati perkataannya.

Keilmuan yang dimiliki saat ini (tahun politik) kontradiksi dengan realitas dan pemahaman keagamaannya.

Kaum sarungan, merupakan investasi terbesar di negeri ini dalam menjaga kerukunan dan mempertahankan NKRI.

Misalnya KH. Muhammad Cholil bin Abdul Latief salah seorang kyai (ulama) yang mempunyai karisma tinggi.

Terbukti, beliau sebagai tokoh masyarakat terkemuka, sosok figur kepemimpinan yang potensial, bertanggung jawab, arif wibawa dan bijaksana.

Beliau hidup di zaman penjajahan menjadikan kehidupan Kyai Cholil juga tidak lepas dari gejolak perlawanan terhadap penjajah.

Cara utama yang dilakukan adalah memulai bidang pendidikan.

Melalui jalur ini Kyai Cholil mempersiapkan pemimpin yang berilmu, punya wawasan, tangguh dan banyak integritas, baik kepada agama maupun bangsa.

Salah satu muridnya ialah Kh. Hasyim Asy’ari representasi dari kaum sarungan, dengan jiwa kesatriannya beliau mampu mengusir penjajah dari kota Surabaya dengan para kaum sarung lainnya.

Kini, tapak tilas itu dikenal dengan resolusi Jihad yang di peringati setiap tanggal 22 Oktober.

Contoh kedua adalah KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, salah satu guru bangsa dan sang revolusioner agama dengan konsep pluralismenya, Ia mampu merangkul semua agama dengan menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan dan kebangsaan.

dalam konteks politik, Gus Dur merupakan sosok yang mampu membawa visi ketuhanan dalam meletakan nilai kemanusian diatas segalanya.

Sehingga ia punya prinsip hidup dengan diksi “yang paling penting dari politik adalah kemanusian”.

Politik baginya hanya jalan untuk memuliakan manusia, bukan mencaci dan menghina manusia apalagi menghina pemimpin.

Disisi lain politik bagi seorang Gus Dur adalah alunan musik yang terdiri dari not dan irama yang membawa suasana kesejukan dan keharmonisan antar penikmatnya (elite dan simpatisan politik).

Jika keributan (konflik) terjadi dalam politik maka dipastikan ada sirkulasi perpolitikan yang putus yakni kemanusian.

Hilangnya peradaban kaum sarungan Madura di akhir-akhir ini tidak lain karena makin perkembangnya tekhnologi dan terbukanya akses informasi yang begitu cepat, sehingga mereka mudah mengkonsumsi informasi tapi tidak mampu mengcounter informasi yang valid dan hoaks.

Sehingga kebencian hanya didasarkan informasi yang bohong, menutup cakrawala pengetahuan.

Sehingga menghina dan mencaci maki menjadi mudah, misalnya, Jokowi Pro PKI, Kriminalisasi ulama dan anti islam.

Kagetnya, berapa hari yang lalu. saya mendengar ceramah seorang kiai disalah satu daerah yang ada di Madura dengan menggebu-gebu berteriak “ganti presiden” dan menjelekan “pemerintah” anti islam, kriminalisasi ulama dan lain-lain.

Seakan-akan agama menghalalkan berkata buruk dan mempolitisasi agama atas dasar kepentingan kelompok dengan menyerukan memilih pasangan Prabowo-Sandi, tidak murni karena kedamaian.

Viralnya fatwa tersebut digagas oleh berapa ulama semadura dengan mengambil sampel satu setiap Kabupaten/Kota yang ada di Madura.

Dukungan kiai tersebut membuat silogisme masalalu dengan sekarang tentang keberadan komunis, seakan-akan Pemerintah (Jokowi) saat ini Pro PKI dan membiarkan kedholiman meraja rela di ibu pertiwi.

Jokowi seakan-akan menjadi bagian dari perusak dan penghianat founding father bangsa.

Namun, hal itu semua hanya narasi fiktif yang dilakukan oleh sebagian kaum sarungan di Madura demi kepentingan politik walaupun di pragraf kedua mengatakan “bukan soal prabowo dan jokowi tapi karena kencintaan terhadap Negeri”.

Argumen tersebut patah dan gugur, ketika di paragraf kelima memuat redaksi “jangan berharap Islam dan semua yang bernuansa Islam tetap ada jika moncong putih berkuasa lagi”, sintesanya bahwa islam tidak akan maju dan berkembang jika Jokowi memimpin lagi.

Kaum sarungan (kiai) seharusnya tidak membuat edaran yang seperti itu, tapi buatlah edaran atau fatwa pada masyarakat yang menyejukan bukan merendahkan apalagi menghina pemimpin.

Saya kira, apa yang disampaikan dan di fatwakan kiai madura yang termuat dalam surat edaran tidak elok untuk dikonsumsi.

Sebab, selama ini pemerintah banyak memberikan kontribusi terhadap pendidikan dan kaum santri.

Jokowi yang dikatakan anti islam, saya kira argumentasi tersebut dipatahkan dengan mengangkat Kiai Ma’ruf sebagai wakil dan berkunjung pak jokowi setiap minggu ke pesantren.

Saya kira masyarakat Indonesia dan Madura sudah pintar membaca fenomena selama ini dan track record pak Jokowi.

Apabila di era penjajahan “kaum sarungan” di sematkan sebagai pejuang dan penjaga demokrasi.

Kini, ada kiai yang hanya menjadi tontonan penyebar kebencian dalam berdemokrasi.

Kesantunan dalam bertutur kata sudah tidak lagi menjadi krakteristiknya, seakan-akan marwah dan martabat kiai hilang dalam konteks lim tahunan, innalillah.

Seyogyanya, pesta demokrasi lima tahunan ini disambut dengan gembira ria.

Sebab, pesta ini adalah pesta rakyat atau perayaan umat.

Dengan hal itu, seharusnya rakyat Indonesia menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian tanpa memusnahkan persaudaraan apalagi menjelek-jelekan orang yang beda pilihan.

Bersatu dengan bingkai kebhinekaan adalah jalan yang indah tanpa adanya fitnah.

Menjaga kerukukunan tanpa permusuhan adalah kesantunan berbangsa dan beragama dalam menjalankan aktivitas pemilu.

Penulis : Kholili Ansori
Editor : Hery Setia