Jamal Gentayangan Sebut Tindakan Oknum Satpol PP Surabaya Tak Manusiawi

191
Jamal Gentayangan, S.Sn., M.Sn., Praktisi dan Pencipta Musik yang juga sebagai Dosen Pasca Sarjana Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

JAKARTA, SENTRAL ONE.COM – Terkait tindakan yang dilakukan Oknum Satpol PP Kota Surabaya, yang melakukan penertiban dengan disertai penganiayaan terhadap pengamen angklung, di traffic light Jalan Gunungsari, Surabaya pada Kamis 23 Mei 2019 lalu, ternyata tidak hanya menjadi perhatian dari seniman Surabaya saja.

Bahkan, salah satu praktisi dan pencipta musik dari Ibu Kota, Jamal Gentayangan, S.Sn., M.Sn., turut prihatin atas insiden penganiayaan yang dialami oleh seniman angklung di Surabaya.

Menurut Jamal, tindakan yang dilakukan oleh oknum Satpol PP Surabaya itu sangat menjijikan dan tidak manusiawi.

“Penertiban dan penganiayaan yang dilakukan oleh oknum Satpol PP Kota Surabaya terhadap musisi Angklung, adalah perbuatan yang tidak terpuji, menjijikkan dan sangat tidak manusiawi,” ungkap Jamal di Jakarta, Senin (3/6).

Dijelaskan Jamal, Satpol PP yang dikenal sebagai aparat penegak perda seharusnya tidak melakukan perbuatan yang tidak terpuji terhadap para pengamen dengan melakukan penganiayaan.

Harusnya Satpol PP juga bisa memberikan pembinaan, karena pengamen musik angklung adalah manusia, yang mencari nafkah bermodal kemampuannya memainkan musik angklung.

“Kalaupun pengamen angklung tidak diperbolehkan mengamen di trotoar jalan, ya harus dicarikan solusi, atau serahkan kepada dinas yang berwenang untuk membina para seniman musik, bisa saja diserahkan ke Dinas Pariwisata Kota Surabaya, untuk memberikan pembinaan, bukan harus digaruk, dianiaya lalu diserahkan ke Liponsos, itu bukan pembinaan namanya, tapi pembunuhan karakter para pekerja seni utamanya seni musik,” tegas Jamal yang juga salah satu Dosen Pasca Sarjana Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

“Para pengamen angklung ini merupakan seniman yang ikut serta melestarikan kesenian musik tradisional, pengamen pun juga banyak yang sisi musikalitasnya sangat bagus dan perlu diarahkan agar bisa menghasilkan karya yang apik, bukan digaruk begitu saja lalu dianiaya,” imbuh Jamal.

Jamal juga mengaku sangat menyayangkan kalau pemusik angklung yang ngamen di pinggir jalan diperlakukan tidak manusiawi.

“Pemusik Jalanan bukan sampah, mereka adalah pekerja-pekerja seni yang sangat kreatif, seharusnya Pemkot Surabaya memfasilitasi para pekerja seni, musisi jalanan untuk lebih kreatif menciptakan dan melestarikan seni budaya bangsa, kalau pemusik dilarang ngamen di jalan, berikan ruang, seperti yang terjadi di Jakarta, para pemusik jalanan diberikan ruang pentas di depan gedung Taman Ismail Marzuki (TIM) mereka bebas ngamen dan berkreasi, bukan malah dikebiri kebebasan berekspresinya melalui seni musik tradisional,” pungkas Jamal.

Publish : Hery Setia