Seniman Pascasarjana IKJ Gelar Pertunjukan ‘Kopi Mana’ di Pendopo Kota Solo

55

SOLO, SENTRAL ONE.COM – Post Fest mampir di Pendopo Balai Kota Solo belum lama ini, dengan menampilkan berbagai pertujukan seni, salah satu pertunjukan musik dan tari karya komposer Jamal Gentayangan dengan Judul “Ko’-pi Ma-Na???”.

Jamal Gentayangan tampil bersama para pekerja seni dan kelompok seni asal Pulau Komodo.

“Kami membawa peracik kopi. Dia akan meracik kopi langsung. Nanti penonton bisa ikut menikmati kopi manggarai khas Nusa Tenggara Timur,” terangnya usai pertunjukan di Pendopo Balai Kota Solo kemarin.

Perlu diketahui, Post Festival merupakan gerakan yang digagas oleh seniman Sardono W. Kusumo, diselenggarakan oleh Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan tujuan untuk memberikan gagasan baru tentang sebuah festival yang didasari oleh riset, training, dan eksperimentasi yang dimentori oleh pakar-pakar seni dengan mengedepankan kekuatan tiga pilar utama, yaitu para seniman individu, institusi, serta komunitas kreatif.

“Ko’-pi Ma-Na, bukan sekedar kopi yang dicari untuk diminum, tapi sebuah sapaan masyarakat Manggarai Barat NTT, yang artinya mau kemana,” ungkap Jamal.

Adapun alur cerita tentang Ko’-pi Ma-na, dijelaskan oleh Jamal Gentayangan bahwa cerita ini berawal dari inspirasi tentang keberadaan sebuah kebudayaan kuno, karya ini terinspirasi dari Gerak ‘Ndundundake’ dan gerak Caci serta Teriakan-teriakan khas Manggarai Barat dalam bahasa kuno.

“Begitupula Kain Songke Manggarai Barat memberi arti dan gambaran tentang kehidupan masyarakat Manggarai terhadap kehidupan dan harapan yang besar ini tergambar dalam motif bintang, mata manuk, jok, ranggong, entela, wela runu’, welang kaweng dan sui,” jelas Jamal.

Ko’ – pi Mana ???? “Sebuah sapaan dalam kesunyian, aku rindu cahaya, aku menyapamu dalam mimpi, aku menemukan tembang ilalang liar.
Aku….. adalah Nyanyian Kecil itu,” ujarnya.

Dalam pertunjukan tersebut ditampilkan tari komodo, yang menggambarkan kisah sejarah hubungan manusia dengan komodo di Kampung Komodo itu berabad-abad yang lalu.

Selain tarian komodo juga ditampilkan tarian caci salah satu tarian adat kebanggaan masyarakat Manggarai, NTT, di mana para penarinya saling bertarung dalam pementasannya.

Sebagai salah satu seni, sah-sah saja rasanya bentuk dan cara mengekspresikannya dan dibalik cara melakukannya, pastilah ada nilai-nilai yang tertanam disetiap gerakan dan atribut yang dikenakan, dengan diiringi musik karya komposer Jamal Gentayangan.

Teriakan Ko’-pi Ma-na dengan menggunakan bahasa Manggarai Barat NTT.

“Ko’-pi ma-na Enu… Mohas agu momang, toe moray…Lembu nai,
ata ngai nekis, dite dara weki. Enu…
Momang ge toko racap, Ho… Enu… nara we’eh, bo kali pamot, toe hemong emong ranga mo Enu…Toe rambang mata, toe bali nai Enu e…Enu… Ata ngai nekis, dite dara weki…”

Yang artinya “Mau kemana dinda, kasih dan sayang takkan sirna penyejuk jiwa,
kita masih satu dalam suratan. Dinda..
sayangku tulang rusukku, Oh dinda ku.. abang kembali sudah niatku, tak mudah melupakan wajahmu dinda.Tak kan ada hati yang mendua, tak ada cinta yang terbagi. Dinda.. Kita masih satu
dalam suratan”.

Adapun pendukung Ko’-pi Ma-na diantaranya, Andi Tenri Lebbi, Dina Kristiana, Ria Lisdayanti, Novia Mariana, Angelina Ayuni Praise, Meiliana Chistiani, Nurdin Longgari, Hesty Nona Palalangan, M.Sn, Madra Primana, M.Sn, Rotua Magdalena M.Sn, Otniel YMT, Muhammad Fokus, M.Sn, Suban Sipakatau, Ilham Bucek, Afifah F. Jansit dan Smiet.

“Post Fest dimeriahkan pula oleh Dwiki Dharmawan berduet dengan musisi Smiet dari Palu. Lalu ada juga pemain saksofon asal Hong Kong, Chi Him Chik serta sejumlah komposer dan pakar seni pertunjukan,” pungkas Jamal.

Publish : Hery Setia