Telat Bayar SPP, Siswi SMK Pawiyatan “Dilarang” Ikut Ujian

91
Suasana SMK Pawiyatan yang berada di Jalan Tangkis Turi, Simomulyo, Surabaya.

SURABAYA, SENTRAL ONE.COM – Dunia pendidikan Surabaya kembali tercoreng oleh kelakuan oknum guru di SMK Pawiyatan yang berada di Jalan Tangkis Turi, Simo Mulyo, Surabaya yang terkesan arogan kepada siswanya.

Hal itu disebabkan karena keterlambatan wali murid salah satu siswi kelas X Administrasi Perkantoran (AP) SMK Pawiyatan inisial AL dalam membayar SPP.

Karena hal tersebut, oknum wali kelas di SMK Pawiyatan itu melarang siswi AL untuk mengikuti ujian.

“Kamu tidak boleh ikut ujian kalau kamu belum melunasi SPP bulan ini,” kata siswi AL didampingi Ibunya Widiawati menirukan ucapan Asmuni ketika ditemui di rumahnya di Jalan Jelidro, Surabaya.

Karena ucapan itu, akhirnya siswi AL tersebut tidak berani masuk ke sekolah.

Mengetahui anaknya diperlakukan seperti itu, Widiawati selaku orangtua dari siswi AL langsung menemui L.A.N. Hasyim, M.Si., selaku Kepala Sekolah SMK Pawiyatan untuk mempertanyakan kenapa anaknya tidak boleh ikut ujian, Senin (11/3).

“Loh gini Bu, jangankan cuma nunggak satu bulan, bahkan yang terlambat bayar SPP satu tahun pun tetap kita perbolehkan ikut ujian,” kata Ibu Widiawati menirukan ucapan Kepala Sekolah SMK Pawiyatan.

Setelah menemui Kepala Sekolah, kemudian Ibu Widiawati diberikan surat memo oleh Kepala Sekolah yang intinya dia (Kepala Sekolah) memerintahkan kepada guru pengawas agar siswi AL dibolehkan mengikuti ujian susulan.

“Mohon diikutkan ujian siswa atas nama AL kelas X AP 1 Terimakasih,” begitu bunyi memo Kepala Sekolah SMK Pawiyatan.

Setelah mendapat memo, siswi AL pun keesokan harinya langsung masuk ke sekolah dengan harapan agar dapat mengikuti ujian susulan.

Namun, ketika siswi AL antusias untuk mengikuti ujian susulan, lagi-lagi salah satu oknum guru bernama Rauli menjatuhkan mental siswi AL dengan memberikan perkataan yang tidak pantas diucapkan oleh seorang tenaga pendidik.

“Buat apa kamu ikut ujian, lah wong kamu loh sudah dipastikan tidak naik kelas,” ujar Ibu Widiawati menirukan ucapan oknum guru Rauli.

Mendengar perkataan seperti itu, Ibu Widiawati melanjutkan bahwa anaknya langsung pulang ke rumah sambil menangis dan mengatakan bahwa putri keduanya tersebut tidak mau melanjutkan sekolah.

“Jujur saya sangat menyesalkan ucapan Ibu Rauli, harusnya sebagai seorang guru dirinya tidak boleh menjatuhkan mental anak didiknya dengan ucapan seperti itu, hanya lantaran karena keterlambatan membayar SPP, karena ucapan Ibu Rauli tersebut, anak saya jadi ngambek tidak mau keluar dari kamarnya,” ungkap Ibu Widiawati.

Kejadian seperti yang dialami siswi AL itu seharusnya tidak boleh terjadi di dunia pendidikan.

Apalagi Walikota Surabaya Tri Rismaharini, bahkan Presiden Jokowi pun sedang menggalakkan program wajib belajar 12 tahun agar jangan sampai ada anak yang mengalami putus sekolah, apalagi hanya karena keterbatasan orangtua dalam membayar SPP.

Hery Setia